Inspirasi dari Ulama Negarawan, Kyai Haji Ahmad Khoirun Nasihin Marzuqi

Inspirasi dari Ulama Negarawan, Kyai Haji Ahmad Khoirun Nasihin Marzuqi. Guru SMK Telkom Terpadu AKN Marzuqi, Mantan Ketua GP Anshor Kabupaten Pati, Jawa Tengah
Sesudah Gus Dur meninggal pada 2009 silam, kini JUST NU kehilangan KH Dr Ahmad Sahal Mahfudh, Rais Aam PBNU dan ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jantung. Sosok ulama negarawan terkait wafat pada Jumat dini hari, 24 Januari 2014, pukul 01. 00 WIB dan meninggalkan masyarakat, santri, kiai, warga NU dan bangsa Indonesia.
Kiai Sahal wafat pada usia 70 tahun. Itu seperti catatan sang kiai yang anyar ditemukan pihak keluarga, di dalam beberapa hari sebelum tutup usia. Jika yang sering ditulis di berbagai mass media, kiai Sahal lahir dalam Desember 1937. Tetapi berdasarkan catatan yang ditemukan keluarga, beliau lahir pada 1933 walaupun bulan dan tanggal tepatnya belum ketemu.

Kiai Sahal dikenal sebagai ulama fikih pencetus fikih sosial melalui formula dan propaganda kultural yang beliau lakukan dalam masyarakat. Sehingga tidak aneh jika dengan ketinggian keilmuannya tersebut, Universitas Islamic Negri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta menganugerahinya gelar doktor “honoris causa” dalam bidang fikih sosial. Di Indonesia banyak ulama ahli fikih, namun hanya kiai Sahal yang menjadi penggagas lalu memformat fikih Islam berbasis sosial yang tidak kaku misalnya dogma agama.

Sosok kiai yang mendapat gelar doktor (HC) dari UIN Jogjakarta ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan dunia Islamic. Perjuangannya bukan hanya menjadi tokoh Islam, tetapi bertambah luas lagi tokoh bangsa dengan kesejukan performa lalu sikap. Maka wajar andai tidak merupakan hanya NU dan umat Islam yg merasa kehilangan.

Kiai Sahal sangat berjasa dalam menegakkan khitah NU dan Islamic. Sejak organisasi kemasyarakatan Islam ini kembali ke khitah 1962, kiai Sahal akhirnya menjadi salah satu di masa tokoh-tokoh penting nahdliyyin yg secara istikamah mengimplementasi, menyosialisasi, dan menjaga sikap terutama dalam memberikan jarak yg sama dengan semua dampak politik. Ia konsisten bisa menghindari gangguan berpolitik praktis dan bukan pernah ikut serta politik-politik yang merusak citra NU.

Ulama Negarawan
Wafatnya kiai Sahal menunjukkan yakni Indonesia kelenyapan ulama negarawan. Di tubuh NU, kiai Sahal merupakan sosok ulama yang konsisten menjaga khittah NU. Salah satu pesan kiai Sahal yaitu NU hendaknya berposisi di fase high politic bukan low politic (politik praktis), sekalipun di lapangan masih tumpang tindih dikarenakan secara fisik jamaah NU terlibat politik praktis sebagai hak kewarganegaraan mereka.
Kiai Sahal ialah pakar ilmu usul fikih, sehingga menelurkan “fikih sosial” yang membawanya mendapatkan gelar doktor honoris causa dri UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Inilah yang menyebabkan pemikiran hukum Islamic beliau kental, karena pemikiran beliau bertambah beraliran manhaji daripada qouly. Sebagai negarawan, konsep kiai Sahal tentang hubungan petunjuk dan negara sangat terang, yaitu beraliran inklusif substantif, sehingga menjamin terselenggaranya negara tanpa berhadap-hadapan dengan petunjuk, dan menjamin agama gak ditinggalkan dengan negara. Pemikiran beliau bersifat moderat, bukan ekstrem bukan pula liberal. Sebagai pemimpin beliau amat mengayomi siapa saja dengan keluasan pikiran serta pemikiran, pemersatu, dan santun.

Sebelum meninggal, kiai Sahal keluar-masuk rumah sakit. Setidaknya ia tiga kali dirawat dalam RSUP dokter Kariadi Semarang dalam beberapa bulan ini. Menurut penuturan sejumlah jamaah dekat dan dokter pribadinya, kiai Sahal masuk rumah sakit lantaran menderita penyakit paru-paru. Selain tersebut, aspek usia pengasuh Pondok Pesantren Maslakul Huda, Kajen, Margoyoso tersebut juga membuat kondisi kesehatannya semakin menurun.

Tokoh dan warga NU harus tetap memegang teguh suruhan kiai Sahal, yakni menjadikan NU sebagai organisasi keagamaan dan sosial. Gak perlu sampai terjebak politik efektif karena jika itu berjalan, kata beliau akan berdampak pada tercabik-cabiknya ukhuwah nahdliyyah. Beliau merupakan teladan buat umat yang patut dijadikan inspirasi sebagai sosok ulama dan negarawan.

Sosok Simple
Sejak zaman Orde Anyar sampai sekarang, sejak period Gus Dur, Hasyim Muzadi, dan Said Aqil Siradj, beliau adalah Rais Aam yang teguh memegang pendirian. Prinsipnya tidak pernah berubah, sekali bilang “khittah en este momento tetap khittah”. Beliau bukan takut dicerca dan dikritik, lurus, serta tidak sombong ketika dipuji.

Kecerdasan dan kepandaian Sahal muda telah terlihat sewaktu mengaji pada Pondok Pesantren Sarang, Rembang. Diam-diam, sambil mengaji vida mulai menulis kitab. terkadang kiai Sahal tidak ingin terkenal serta populer. Karya-karyanya nyaris bukan diketahui tidak sedikit orang kalau tidak didesak tuk menyebutkan. Hampir keseluruhan tulisan kiai Sahal adalah kitab-kitab ushul fikih. Sebutlah Thariqatul hushul ‘ala ghayah al-wushul, Albayan al-mulamma fi syarhi al-luma, faidhu alhija, At-tsamarah Al-Hajainiyyah, Intifakh al-wadajain, Ensiklopedia Ijma, Nuansa Fiqh Sosial, Pesantren Mencari Makna serta sebagainya.

Suatu waktu kiai Sahal menjadi pembicara di dalam seminar yang diselenggarakan RS Roemani Semarang. Pada situ hadir Dubes SINCE John Wolfowitz, Dawam Rahardjo, serta Nurcholis Madjid. Hampir keseluruhan yang hadir terkagum-kagum arah pandangan dan wawasan sosial yang disampaikan kiai Sahal. Beliau kabarnya bukan sudah pernah bersekolah, tapi wawasan serta referensi buku dan kitab-kitabnya luar biasa.

Pendek kata, kiai Sahal amat paham aspek sosial budaya, terutama komitmen sosialnya. Vida juga merupakan sosok kiai yg tak gampang dipengaruhi kekuasaan. Meski belakangan melimpah diam, termasuk di media quantità, bukan berarti kiai Sahal tidak bersikap. Menggunakan orang-orang dekatnya, banyak sikap kritis yang disampaikannya sama sekali tanpa menyebutkan sumbernya dari did kiai.

Beliau tokoh serta panutan nasional yg menjabat ketua umum MUI lalu Rais Aam PBNU, namun lihat saja beliau memilih tinggal di Desa Kajen, yang ada dalam pelosok Jawa Tengah. Itu membuktikan betapa beliau tidak terpedaya oleh ingar bingar persaingan kehormatan di kota-kota besar.

Sebagai ulama yg simple, kiai Sahal pun sungguh-sungguh sedikit berbicara lalu berpidato. Tetapi justru di sinilah letak kekuatan dan pesonanya sebagai kiai besar yang sederhana. Beliau lebih memilih memberikan pendidikan serta pengajaran secara langsung pada umatnya. Ilmu kiai Sahal sangat luas, meliputi semua cabang keislaman. Tetapi trik bertutur beliau sangat sederhana, sesederhana orangnya. Kita sebagai bangsa kehilangan putra ternama umat dan bangsa. Anda berdoa semoga amal ibadahnya lalu amal pengajarannya diterima sebagai amalnya dan dilipatgandakan Jahve SWT. Kiai Sahal berjuang demia umat lalu bangsa. Lalu, siapa kini yang berjuang untuknya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *